Pidato Bulan Bung Karno oleh Ketua DPD PDIP Provinsi Maluku Utara

Foto: Muhammad Sinen Ketua DPD PDI Perjuangan saat membacakan pidato peringatan Bulan Bung Karno

Assalamualaikum..Wr..Wb
Salam sejatera untuk kita semua.

Suatu hari di Kotaraja, Ende Utara tahun 1934 tepatnya di Kota Flores NTT, seorang pejuang besar republik dalam pengasingannya gelisah, bukan karena jadi tawanan penjajah, namun gelisah memikirkan apa dasar negara besar ini yang sedang diperjuangkan untuk merdeka.

Setiap sore Bung besar Soekarno di tempat pengasingan, biasanya duduk di tepi pantai di bawah pohon Sukun bercabang lima (pohon AMO), terus mengali pikiran besar kebangsaan, negara ini mesti mampu berdiri di atas pilar ideologis yang kuat, kemudian tercetuslah nilai-nilai luhur Pancasila. Di bawah pohon Amo di tepi pantai ende yang sunyi itu the science of ideas (pengetahun ide-ide) pikiran tentang prinsip-prinsip Ketuhanan, Kebangsaan, kesejateraan, demokrasi, dan internasionalisme lahir dan tumbuh disaksikan laut dan pohon pohon Amo persis sama kondisinya seperti di pulau Maitara yang kita cintai ini, hingga Bung Besar memperkenalkan pancasila pada pidato 1 juni 1945 di hadapan sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai.

Perjalanan panjang mencari ideologi negara indonesia adalah moment begitu bernilai sehingga setiap 1 juni kita rayakan sebagai hari lahir Pancasila, dimana semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi perekat seluruh anak bangsa yang berbeda-beda baik suku, ras juga agama tetapi kita di ikat dalam satu kesatuan NKRI, tetap satu jua. Sebuah legacy (warisan) dari para founding father kita yang begitu berharga.

Proklamator Ir Soekarno lahir pada 6 juni 1901 dan wafat juga pada bulan yang sama 21 juni 1970, karena itulah PDI Perjuangan mengambil Juni sebagai bulan Bung Karno. Bung besar di usia 20 tahun telah tumbuh sebagai pribadi yang kritis, penantang pejajahan paling terdepan, Beliau telah berpikir bagaimana rakyat Indonesia harus lepas dari tekanan bangsa asing, merdeka dan (berdikari) berdiri di kaki sendiri, dengan tegas beliau mengatakan bahwa kemerdekaan ini bukan pemberian dari penjajah tapi di rebut dengan darah dan air mata seluruh pejuang Indonesia.

Ketika Soekarno turun dari sepedanya bertemu dan berbicara dengan para petani yang sedeng bekerja di kebun-kebun mereka, Soekarno hendak memberikan pesan bahwa kesejateraan Indonesia mestilah di mulai dari para Marhaenis (petani, nelayan dan kaum pinggiran), kekuataan bangsa ini berada ditangan para pekerja yang bekerja di kebun dan lautan yang ada di desa-desa. Karena sedari awal para petani dan nelayan telah sanggup berdikari, menguasai alat produksi sendiri dan mampu bekerja menghasilkan kebutuhan-kebutuhan baik dirinya dan orang banyak. Ini sebenarnya arti berdaulat yang hakiki.

Desa hari ini adalah kota di masa depan, dan kota hari ini adalah desa di masa lalu. Karena sejak awal sebelum polis-polis (kota-kota) ada dan berkembang, dahulunya ia hanyalah desa-desa yang kemudian terintegrasi dalam satu kesatuan besar perkotaan. Nilai orang-orang desa yang paling bersahaja adalah rasa kegotong royongannya yang begitu tinggi, Orang Maitara khususnya masih memegang prinsip-prinsip gotong royong. Suatu pekerjaan yang berat sekalipun jika dikerjakan secara bersama-sama akan terasa begitu ringan, gotong royong harus tetap menjadi falsafah hidup kita, meski kehidupan kian modern, batas-batas dunia kian mengabur dengan hadirnya tekhnologi dan kehidupan sosial di dunia maya yang kian memburuk, karena sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang akan saling membutuhkan sampai akhir hayatnya.

Desa adalah kekuatan ekonomi sebuah kota juga negara, ada lumbung di desa-desa yang bisa sewaktu-waktu digunakan ketika masa paceklik tiba. Sepinya desa bukan merupakan hambatan apalagi kekuatan namun sebaliknya sepinya desa ada potensi ruang paling baik untuk mengembangkan diri, jika negara berpihak pada petani dan nelayan, kita semua yakin dan percaya masa depan warga desa akan lebih cerah.

Karena itulah, warga desa tak boleh pesimis tapi harus berbangga karena kita yang di pelosok-pelosok inilah yang sebenarnya telah menghidupi bangsa ini. Pemerintah Jokowi selama dua periode ini telah berusaha semaksimal mungkin menggalang pembangunan yang di mulai dari desa-desa, maksudnya jelas meneruskan perjuangan dan cita-cita luhur presiden Soekarno, membangun dari pinggiran mesti jadi semangat seluruh stekholder di negara ini, sehingga harapan dan cita-cita terwujudnya masyarakat adil dan sejatera sebagaimana amanat UUD 1945, bukan sekedar ambisi besar tiap anak bangsa tapi merupakan prioritas bagi setiap pemimpin negara.

Di Peringatan Bulan Bung Karno 2021 kali ini, PDI Perjuangan mengambil tema “Bhinneka Tunggal Ika, Kerja Gotong Royong Untuk Desa Maju, Indonesia Kuat dan Berdaulat” tak lain dan tak bukan adalah bagian dari upaya mewujudkan semangat juga cita-cita luhur para pendiri bangsa ini, agar Indonesia mampu tumbuh sebagai sebuah bangsa yang memiliki peradaban mulia sehingga dalam setiap pergaulan internasional kita tetap dihormati sebagai sebuah negara berdaulat yang memegang teguh prinsip-prinsip kesetaraan dalam kemanusiaan.

Sejarah mencatat dengan rapih dan begitu saksama, bagaimana Soekarno tegas menolak timnas Indonesia tampil menghadapi dengan Israel pada piala dunia tahun 1957. Soekarno dengan sangat heroik berkata; Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina maka selama itu bangsa Indonesia menantang penjajahan Israel.

Keberpihakan Soekarno pada Palestina jelas sebagaimana perintah UUD bahwa segala penjajahan di atas harus di hapuskan. Penolakan kedua pada Israel ketika Jakarta menjadi tuan rumah asian games ke-IV pada tahun 1962, Presiden Soekarno melarang pemerintah mengeluarkan visa kepada kontingen Israel. Inilah prinsip kesetaraan dalam kemanusiaan yang dipegang teguh oleh Bung Karno dalam pergaulan Indonesia dengan negara-negara Internasional.

Indonesia di masa Soekarno adalah Indonesia kuat dan berdaulat, hingga hari ini kita masih menemukan Indonesia yang seperti itu, meski pemberontakan telah terjadi dimana mana, dari mulai pemberontakan hendak menggantikan pancasila dengan paham komunis hingga pemberontakan kaum separatis dimana-mana, faktanya Pancasila tetap saja sakti, NKRI tetap saja berdiri dari Sabang sampai Merauke. Kita adalah bangsa yang besar dan setiap bangsa besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawan-pahlawannya.

Wassalamualaikum..Wr..Wb.

Penulis:

Baca Juga