Badan Riset KKP Temukan Artefak Peninggalan Dinasti Ming di Perairan Tidore

Badan Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan saat menemukan sejumlah artefak berupa Guci di perairan Kelurahan Soasio || foto: Badan Riset KKP

TIDORE - Menjelang Sail Tidore pada bulan September 2021 mendatang, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) mulai menerjunkan Tim Riset di Kota Tidore Kepulauan untuk melakukan penelitian terkait dengan situs-situs sejarah bawah laut mengenai kapal tenggelam dari bangsa-bangsa eropa baik Spanyol maupun Portugis dalam pelayaran menglilingi dunia.

Dalam penilitian tersebut, Badan Riset KKP RI menemukan sejumlah artefak yang diduga kuat memiliki ikatan sejarah dengan bangsa-bangsa eropa dalam mengelilingi dunia, dengan melintasi jalur rempah, yang titik kordinatnya berada di perairan Tidore.

" Ada dua spot yang kami selami dan menemukan adanya situs sejarah berupa artefak peninggalan kapal, dua spot itu diantaranya di perairan Kelurahan Tongowai Kecamatan Tidore Selatan, dan Depan Benteng Tahula Kelurahan Soasio, Kecamatan Tidore," ungkap Kepala Loka Riset dan Kerentanan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan SDM Kementrian Kelautan dan Perikanan, Nia Naelul Hasanah Ridwan, SS, M. Soc, Sc. Saat ditemui awak media pada, di penginapan Visal, Kelurahan Gamtufkange, Selasa (30/3/2021).

Wanita yang akrab disapa Nia ini melanjutkan bahwa sejumlah artefak yang ditemukan pihaknya saat menyelam di Perairan Tongowai, terdapat sebuah Meriam yang diduga kuat milik Kapal dari Portugis, karena meriam tersebut, memiliki kemiripan dengan meriam yang terdapat di Itogapura, Kelurahan Gamtufkange. Selain Meriam ada juga (Gerabah) Guci yang terbuat dari tembikar yang juga memiliki kemiripan dengan Guci yang berada di Itogapura.

" Kalau Meriam itu dibuat di Makao, Cina. Hanya saja saat itu, Makao dikuasai oleh Portugis, sehingga Portugis kemudian membuat meriam-meriam terbaiknya di Makao, kontribusi Portugis terbesar di dunia adalah Meriam dari Makao, dan yang memproduksi Meriam itu adalah Manuel Tavares Bocarro, dia adalah Salah satu pembuat meriam terbaik Portugis, jadi sebuah Meriam di Tongowai itu milik kapal Portugis," jelasnya.

Sementara di Kelurahan Soasio, tepatnya di depan Benteng Tahula, kata Nia, pihaknya menemukan sejumlah keramik berbentuk seperti piring yang diketahui berasal dari Dinasti Ming.

Jenis keramik ini ada yang dari periode Kaisar Ming Wan Lee (1578-1620), dan Periode Kaisar Tianqi (1621-1628), dimana untuk jenis keramik pada periode Ming Wan Lee terdapat banyak corak berwarna biru yang melingkari keramik, sementara untuk Kaisar Tianqi itu produksi keramiknya tidak terlalu dipenuhi oleh corak berwarna, melainkan sebatas gambar manusia yang terkesan bermain musik di tengah-tengah.

" Untuk keramik yang berbentuk mangkok dan piring berwarna putih kami belum tau darimana asalnya, cuman keramik ini selain diproduksi dari Cina, banyak juga diproduksi dari Korea," tambahnya.

Kepala Loka Riset dan Kerentanan Pesisir, Pusat Riset Kelautan, Badan Riset dan SDM Kementrian Kelautan dan Perikanan, Nia Naelul Hasanah Ridwan, SS, M. Soc, Sc

Sejumlah artefak di Kelurahan Soaiso ini, diduga kuat milik Kapal Portugis yang datang membawa muatan dari berbagai daerah, hal itu dikarenakan sejumlah keramik yang diproduksi dari Cina, dan Guci (Gerabah) yang diketahui dari Thailand ini pada massa Abad ke 16 yang saat itu bertepatan dengan masuknya kapal Portugis di Maluku Utara. Sehingga dalam pelayaran kapal, bisa saja kapal-kapal tersebut bersinggah untuk membeli sejumlah komuditas, di Cina atau di Makao.

" Meskipun pada tahun 1.600, Belanda sudah masuk di Indonesia Termasuk Tidore, tapi ditahun tersebut Belanda dilarang masuk ke area Makao, Cina. Karena mereka dilarang melakukan perdagangan dengan Cina, sehingga kalau belanda ingin mendapatkan barang-barang dari Cina maka mereka harus merampas kapal Portugis dan Spanyol. Tetapi kalau barang-barang ini dibawa dari kapal Portugis mungkin wajar, karena mereka ambil barang-barangnya dari Makao, Cina. Tetapi untuk kepastiannya kita belum tau apakah barang-barang ini dibawa dari Kapal Portugis, Spanyol atau Belanda," pungkasnya.

Olehnya itu, Badan Riset Kementerian Kelautan dan Perikanan akan mendalami lebih jauh terkait dengan situs sejarah yang ditemukan, sehingga Tidore nantinya memiliki bukti fisik yang kuat bahwa adanya barang-barang peninggalan sejarah dari berbagai bangsa untuk memperkuat potensi situs Kapal tenggelam terkait dengan Arkeologi Maritim.

" Untuk mendukung Sail Tidore ini, kami dari sejumlah Kementerian juga akan menyalurkan banyak bantuan terkait dengan kebutuhan masyarakat dan Kota Tidore. Jadi soal hasil riset ini, selanjutnya akan dibuat galery foto untuk ditempatkan di Museum yang dilengkapi dengan narasi sejarahnya," tambahnya.

Dia menambahkan bahwa, untuk sejumlah artefak Yang diangkat oleh pihaknya berupa keramik dan gerabah itu, nantinya akan ditempatkan di Museum Sonyinge Malige untuk dikelola oleh Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan. Pasalnya jika dibiarkan begitu saja, maka artefak-artefak sejarah ini akan rusak karena tidak terurus akibat tidak diketahui banyak orang.

Sekedar diketahui, Tim dari Kementerian yang melakukan Riset di Tidore ini sebanyak 9 orang, dibantu oleh Dinas Kelautan Dan Perikanan (DKP) Tidore Kepulauan dan Tidore Diving Club (TDC) yang merupakan salah satu komunitas menyelam dari Tidore.

Penulis: Daffa
Editor: Dano

Baca Juga