Dilupakan Dalam Perayaan 500 Tahun , Warga Rum Minta Monumen Spanyol Ditenggelamkan ke Laut

Monumen Tugu Spanyol yang berada di Kelurahan Rum Balibunga sebagai tanda awal pendaratan Kapal Spanyol yang didatangi oleh dua wisatawan || foto: Aby Tama

TIDORE - Kedatangan replika kapal latih Spanyol, Juan Sebastian De Elcano di Kota Tidore Kepulauan sebagai bentuk memperingati 500 tahun perjalanan Juan Sebastian de Elcano mengelilingi dunia dan mendarat di Tidore pada 8 November 1521.

Perayaan yang dilakukan secara megah itu dinilai mengkerdilkan situs sejarah Spanyol lainnya di Tidore. Salah satu bukti sejarah sebagai lokasi pertama pendaratan Juan Sebastian De Elcano yang diabaikan dalam perayaan 500 tahun perjalanan kapal Spanyol itu adalah monumen pendaratan Juan Sebastian De Elcano yang berada di Kelurahan Rum Balibunga.

Pantauan media ini, sejak kedatangan kapal latih Spanyol di Tidore pada Sabtu akhir pekan kemarin, monumen bersejarah itu tidak pernah dikunjungi. Bahkan, kondisi monumen yang terletak di depan kawasan PLTU Tidore itu tidak terurus. Pintu masuk ke monumen yang terbuat dari kayu mulai rusak. Bahkan, cat tembok pagar monumen itu sudah memudar. Parahnya lagi, bagian fisik monumen yang memuat tiga bahasa yakni bahasa Spanyol, Indonesia dan Inggris itu telah retak.

Salah satu pemuda Rum, Iswan Wahab mengatakan, pada Sabtu 28 Maret 2021 kemarin merupakan hari bersejarah bagi Kota Tidore terkait penyambutan kedatangan kapal Latih Juan Sebastian De Elcano. Kedatangan kapal ini, dengan tujuan memperingati 500 tahun hubungan antar Kesultanan Tidore dan Kerajaan Spanyol dalam perdagangan rempah-rempah. Perayaan ini juga membuktikan bahwa kedekatan erat antara Spanyol dan Tidore pada masa lampau.

Hiruk pikuk dan kemeriahan perayaan dan penyambutan kedatangan ini menjadi optimisme akan adanya perubahan. Perayaan ini juga menandakan masyarakat dan pemerintah kita telah berani membuka diri dengan siapa saja untuk kembali berkolaborasi dalam pengembangan daerah. Selain itu, sebagai tuan rumah tentunya kedatangan ini selain disambut dengan berbagai kegiatan seremonial juga prinsipnya pada persiapan fisik dalam hal perawatan dan pembersihan sisa-sisa peninggalan spanyol berupa monumen salah satunya.

Hal ini sangat berdasar mengingat meriahnya perayaan penyambutan kapal tersebut, Namun kenyataan lapangan berbanding terbalik dengan dibiarkannya monumen bersejarah pendaratan Spanyol di Kelurahan Rum Balibunga yang semrawut dan tidak terurus. Banyak sampah yang berserakan di sekitar monumen menjadi potret buram bersamaan dengan penyambutan kedatangan kapal Juan Sebastian De Elcano. Potret dari kondisi ini menjadi sebuah pertanyaan besar terkait kesiapan kita sebagai tuan rumah yang baik belum sepenuhnya dikerjakan secara optimal. Betapa tidak, posisi monument juga berada pada titik masuk Kota Tidore Kepulauan juga merupakan bukti fisik yang nyata pendaratan awal pertama Spanyol di Tidore. Di lain sisi akan muncul pertanyaan. Apakah tidak terurusnya monument dikarenakan monument tersebut bukan sebuah bukti fisik sejarah yang nyata tentang keberadaan spanyol.

“Hingga ia diabaikan dan tidak terurus sama sekali. Jika seperti itu dugaannya, maka monument tersebut mending ditenggelamkan ke laut Tanjung Rum biar ikut tenggelam dikenang sejarah bersamaan dengan tenggelamnya kapal Trinidad,” kata Iswandi.

Perayaan kedatangan kapal Juan Sebastian de Elcano pada 28 Maret 2021 kemarin juga menyisihkan pilu dan luka terhadap beberapa komunitas dan masyarakat adat. Betapa tidak daerah wilayah kelurahan Rum yang merupakan wilayah kepelabuhan dan keberadaan monument Spanyol tidak diindahkan sama sekali dalam momentum kegiatan ini. Perjalan kapal tersebut hanya menapaki ke wilayah perairan Tanjung Mareku dan terakhir berlabuh di perairan pantai Tugulufa, hingga Rum sebagai salah satu wilayah pencatutan yang ditandai dengan adanya monument dilewati begitu saja tanpa ada arakan atau bunyian penghormatan dari kapal Elcano.

“ Menangis memikul luka ketika itu dilihat oleh para tetua, adat yang ada di Rum. Dikarenakan Rum merupakan wilayah sentra perdagangan saat itu. Maka secara tidak langsung Rum selalu di intimidasi dan digeneralisasi, hingga semua yang ada hanya menjadi potret buram dalam perkembangan dan pembangunan di Kota Tidore Kepulauan,” ujarnya.

Baginya, hal tersebut tidak terlepas dari peranan petinggi pemerintah dan ego wilayah yang selalu mengarahkan pembangunan berada pada wilayah selatan Kota Tidore Kepulauan, dan pembelokan sejarah yang selalu didengungkan hingga saat ini.

Keberadaan pemerintah sebagai pemangku kebijakan sudah semestinya mampu melihat realitas yang konstruksional untuk diatur arah kebijakannya hingga ada keseimbangan dalam pembangunan. Selain itu, pihak kesultanan diharapkan harus objektif dan mampu menapaki setiap jejak cerita dan perjalanan kewilayahan Kesultanan Tidore," Harus adanya penjelasan dari pihak kesultanan akan kondisi dan polemik kewilayahan Rum ini,” tegasnya.

Selaku pemuda Rum, Iswandi meminta Pemerintah daerah dan pihak terkait harus memanfaatkan momentum ini, untuk dapat menjalankan kerja sama baik dibidang pendidikan, olahraga, budaya dan lainya. Kegiatan ini tidak hanya sekedar seremonial untuk pertunjukan tarian dan lainya tapi harus lebih historinya seperti apa, biar ada penggalian sejarah yang sebenarnya.

Menyikapi terkait titik pendaratan Spanyol. Kami mempertanyakan terkait keberadaan monumen Spanyol di Rum. Secara de facto buktinya ada di Rum tapi kenapa pelaksanaanya di Mareku. Bukti fisik yang otentik sampai sekarang untuk kedua wilayah hanya ada di wilayah Rum.

“ Kami juga desak segera mendorong dibuatnya cerita kampung untuk dibukukan dalam buku yang terkait dengan sejarah agar mencegah terjadi penyelewengan sejarah,” ujarnya.

Terpisah, dosen pada Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unkhair Ternate, Irfan Ahmad mengemukakan, tugu atau monumen yang ada di Rum itu dibangun pada tahun 1993 saat kunjungan kapal angkatan laut Spanyol bersama kedutaan Spanyol sehingga diabadikan sebagai tempat pendaratan versi Spanyol. Pihak Spanyol tentu memiliki alasan kuat mengapa monumen itu dibangun di Rum.

Dalam catatan sejarah yang ditulis oleh pria asal Genoa Italia, Antonio Pigafetta sebagai juru tulis dalam rombongan Sebastian de Elcano. Rum saat itu, secara administrasi masuk wilayah Mareku. Kawasan administrasi kerajaan tidak menyebutkan Rum tetapi Mareku. Titik koordinat pendaratan tidak disampaikan secara detail dalam narasi yang ditulis oleh Antonio Pigafetta. Akan tetapi, kata Irfan, saat rombongan Sebastian de Elcano itu datang di Tidore pada 1521 itu tertulis dengan tegas bahwa rombongan Spanyol itu berlabuh di depan Tidore dan sehari setelah itu Sultan Tidore, Al Mansyur menyambut kedatangan Spanyol.

“Jadi, 8 November 1521 itu, Spanyol berlabuh di titik yang saat ini masuk wilayah administrasi Rum. Tapi administrasi Rum ini kan baru terbentuk. Rum juga baru terbentuk di abad 17. Jauh sebelumnya, kawasan itu masuk Mareku,” ungkap Irfan.

Saking besarnya kawasan Mareku, sangaji kemudian dibagi menjadi dua yaitu sangaji Laho dan sangaji Laisa. Wilayah administrasi Mareku sangat besar saat itu karena kerajaan ada di Mareku saat itu. Belakangan, pemerintah menetapkan monumen itu masuk dalam kawasan administrasi Rum.

“ Jadi kalo Rum komplen bahwa kapal itu pertama di Rum juga benar karena wilayah itu sekarang masuk administrasi Rum. Kalau orang Mareku komplain bahwa masuk wilayah Mareku juga benar karena saat itu memang wilayah Mareku. Dua-dua benar, cuma satu pakai adiministrasi terbaru dan satu pakai administrasi tradisional. Dua dua ini sah,” jelasnya.

Pertanyaan kemudian, mengapa perayaan kapal itu dilakukan di Tugulufa. Seharusnya, pemerintah memberikan penjelasan yang kongkrit dan ilmiah terkait dengan penempatan lokasi di Tugulufa. Tentu pemerintah punya alasan tersendiri, namun kalau dilihat dari fakta historis dan data sejarah maka hal itu ada di Mareku yang saat ini menjadi wilayah administrasi Rum.

Menurut Irfan, kapal tersebut masuk ke Tidore sebanyak 2 kali. Sehingga harus bisa bedakan berlabuh dan mendarat. Saat itu pada 8 November 1521, kapal yang dinahkodai Juan Sebastian de Elcano itu berlabuh di lokasi yang saat ini menjadi tugu atau monumen di kelurahan Rum karena perairan disitu sangat tenang. Saat itu, setiap tamu dari berbagai macam negara, tidak bisa langsung memarkir kapal di perairan istana atau kedaton. Di tanggal 8 November itu 1521 itu, Sultan Al Mansyur sudah mengetahui ada kapal asing yang berlabuh di teluk atau tanjung Mareku yang saat ini masuk Kelurahan Rum. Pada 9 November 1521, kapal Spanyol itu undang oleh pihak kerajaan dan diminta masuk ke perairan istana atau kedaton yang ada di Mareku ketika itu.

“Jadi ada dua kali kapal itu masuk. Pertama di tugu atau monumen Rum itu dan kedua masuk di Mareku yang dikenal sebagai Sumpodo,” ujar Irfan.

Menurut Irfan, bila ada klaim klaim dari Rum dan Mareku tentang lokasi pendaratan kapal yang dinahkodai Juan Sebastian de Elcano sah-sah saja.

Yang masih kurang adalah perdebatan ilmiah karena saat ini semua masih bertahan dengan tradisi-tradisi lisan tapi sejauh ini tidak ada langkah konkret bahwa jika itu ada di Rum dan Mareku maka mana bukti sejarahnya dan narasi sejarahnya. Hal itu juga harus dijelaskan oleh Pemerintah dan pihak kesultanan.

Irfan menegaskan, pembangunan tugu atau monumen Juan Sebastian de Elcano di Rum itu merupakan tanda bahwa kapal tersebut masuk berlabuh pertama kali di Rum. Perairan tenang karena disitu lokasi holl dan laut disitu sangat dalam.

Saat itu, tidak semua kapal bisa langsung berlabuh di depan istana atau kedaton karena saat itu situasi Ternate dan Tidore sering bertikai. Siapa yang berani berlabuh di perairan kedaton tanpa sepengetahuan Angkatan Laut kesultanan Tidore itu akan celaka sekalipun Spanyol memiliki armada dan persenjataan yang bagus," Jadi berlabuhlah kapal itu di holl yang ada di Rum itu,” tandasnya

Penulis: Daffa
Editor: Dano

Baca Juga