Membangun Kepeloporan Dalam Gerakan Kebangsaan

Penulis : Muhammad Saleh.SH Aktivis Aliansi Rakyat Nasionalis ( ALIRAN )

Realitas tragis dan ironis berbagai krisis multi dimensi di bangsa ini harus di akui cukup berdampak pada terbangunnya sinisme beberapa kelompok masyarakat. Teladan buruk pada pemimpin yg korup menggerus harapan masyarakat akar rumput akan hadirnya sosok yg sanggup membawa amanah perubahan secara konsekuen dan konkrit.

Retorika, jargon dan konsep ideal tapi utopis di obral para elit di telinga rakyat awam, dan hanya berujung menjadi tunggangan politis yg memanfaatkan rakyat sebatas mesin elektoral sesaat. Para elit lebih suka menjadi wakil rakyat di atas kursi empuk kekuasaan daripada lebih banyak mendengar jeritan rakyat.

Melihat realitas di atas, sebagai anak bangsa yg merasakan gelora merah putih dalam setiap nadi tdk seharusnya menjadi sinis bahkan mencaci bangsa sendiri. Negara kita menjadi gaduh karena lebih banyak para komentator daripada para pelopor.

Di tengah krisis orientasi kebangsaan, kita harus menyatukan gagasan dan tekad menciptakan kiblat perubahan utk menavigasi para garuda-garuda muda utk mengepakan sayap menembus awan gelap. Membelah cakrawala dan menggapai mentari perubahan di setiap jengkal bumi Nusantara.

Gerakan kepeloporan perubahan bangsa harus bermula dari satu titik episentrum yang kecil. Ibarat gempa tektonik, titik episentrum yang kecil tersebut juga yang akan memicu getaran tektonik yang akan menyebar dalam radius yang luas.

Gerakan kepeloporan ini harus bisa membangkitkan tiga kekuatan bangsa yaitu IDENTITAS, EKSISTENSI dan SOLIDARITAS. Ketiganya adalah pondasi vital di mana bangunan Indonesia emas akan di bangun dengan kokoh.

1. IDENTITAS

Kita mutlak hijrah ke akar identitas ke-Indonesia-an kita. Identitas kebangsaan kita melebur satu dari ekstrak nilai Pancasilais, religius dan nasionalis. Identitas ini hrs mengkristal secara solid dalam pola pikir, karakter serta kehidupan sosial masyarakat kita. Jgn biarkan ancaman balkanisasi membuat identitas ini di koyak. Perbedaan agama, etnis, bahasa dan kelompok sosial harus bisa berdiam dengan harmonis di bawah atap rumah bernama INDONESIA.

2. EKSISTENSI

Identitas kebangsaan yg kokoh akan bermuara pada terbangunnya eksistensi kebangsaan yang kokoh. Identitas kebangsaan yang membangun eksistensi kebangsaan berakar dari kemandirian secara politik, ekonomi dan budaya. Mindset keberpihakan pada penguatan keunggulan domestik akan memicu daya defensif terhadap pengaruh distorsi dari kolonisasi asing.

3. SOLIDARITAS

Konstruksi identitas dan eksistensi kebangsaan harus di arahkan pada terciptanya solidaritas dalam pluralitas kebangsaan. Menguatnya semangat solidaritas kebangsaan dalam setiap lapisan masyarakat akan bermuara pada terbangunnya kedaulatan kebangsaan. Solidaritas ini di bangun dengan menempatkan aspek "personal" dan "universal" dalam tatanan kebangsaan. Aspek religius tiap warga negara bersifat personal dan sangat asasi. Dan tidak boleh ada unsur paksaan, sebaliknya hrs saling toleran. Namun, solidaritas yang pluralis hrs di pandang sebagai aspek universal yang mutlak di rawat.

Kontekstualisasi dari gerakan kepeloporan yang berakar dari tiga pondasi di atas adalah penting. Setiap ormas lokal dan nasional seyogyanya bisa menciptakan ekosistem pengkaderan strategis yang bertumpu dari tiga pondasi vital di atas. Dengan demikian, kita akan memiliki aset kepemimpinan masa depan yang siap mengubah wajah masa depan Indonesia akan bersinar cemerlang dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Rotte.

Tetap bergerak di bawah kepak sayap garuda dan gelora merah putih dalam dada.

Salam Merah Putih.

Penulis:

Baca Juga