Aksi Penolakan Dinilai Merusak Demokrasi

[Aksi penolakan dari Garaki Tomalou]

TIDORE – Gerakan Penolakan Pasangan Nomor Urut 2 Ali Ibrahim - Muhammad Sinen (AMAN) di Kelurahan Tomalou diduga kuat dilakukan oleh Pendukung dari salah satu Pasangan Calon yakni Salahudin Adrias dan Muhammad Djabir Taha alias SALAMAT.

Dugaan tersebut dikarenakan dalam aksi yang dilakukan itu, dimotori oleh Ketua Partai Gelora Kota Tidore Kepulauan Prince Fahd. Sulaiman yang merupakan Pendukung Pasangan SALAMAT. Pasalnya Partai Gelora dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kota Tidore 2020 ini telah resmi mendukung Pasangan SALAMAT.

“ Penolakan di Tomalou itu bukan penolakan yang dilakukan Masyarakat secara keseluruhan, melainkan beberapa oknum, dan oknum itu terindikasi telah berafeliasi terhadap salah satu Pasangan Calon yakni Pasangan SALAMAT. karena Koordfinator I dalam Aksi tersebut merupakan Ketua Partai Gelora,” ungkap Ketua Tum Hukum Pasangan AMAN Rustam Ismail, Selasa, (20/10/20).

Jika dipandang dari aspek politik, Rustam mengatakan langkah penolakan di Tomalou bisa dikualifikasikan sebagai gerakan Provokasi yang sengaja mengadu domba masyarakat di kelurahan Tomalou, buktinya demonstrasi yang dilakukan oleh orang-orang tertentu itu merupakan orang-orang yang mendukung SALAMAT," Banyak kok orang tomalou yang mendukung AMAN, jadi kalau ini dibilang provokasi saya anggap masuk dalam kualifikasi karena yang melakukan Demo adalah orang-orang tertentu yang jelas mendukung SALAMAT,” pungkasnya.

Meskipun penolakan itu belum dilakukan saat pelaksanaan kampanye pasangan AMAN di Tomalou, namun sudah ada niat untuk melakukan penolakan yang ditunjukan secara terang-terangan. Olehnya itu, Bawaslu, KPU dan Aparat penegak hukum diminta harus bertindak tegas, karena gerakan tersebut bisa saja menghalangi agenda Pemilu yang telah ditetapkan oleh KPU. “ Kami hanya tinggal menunggu moment yang tepat untuk ditempuh melalui jalur hukum,” tambahnya.

Sementara menurut Ketua Bawaslu Kota Tidore Kepulauan Baharudin Tosofu, menilai bahwa gerakan penolakan terhadap salah satu pasangan Calon kandidat merupakan sebuah sikap yang merusak demokrasi, untuk itu gerakan tersebut akan didalami oleh Bawaslu guna mencari tau motif dibalik gerakan tersebut. Apalagi dalam aksi yang dilakukan kemarin juga dihadiri oleh Ketua Partai Gerindra Kota Tidore Kepulauan Jubaidah Kamal yang juga merupakan pendukung dari Pasangan SALAMAT.

“Jika dari aksi tersebut kemudian ada yang merasa dirugikan maka bisa dilaporkan ke pihak kepolisian, karena kami di bawaslu belum bisa bersikap terlalu jauh disebabkan peristiwa hukum belum terjadi, misalnya jika mereka melakukan penolakan pada saat berlangsungnya kampanye maka disitulah peristiwa hukum akan berlaku dan bisa kami tindak sebagai pidana pemilu sesuai dengan UU Nomor 1 Tahun 2015,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya.

Untuk itu, Baharudin menghimbau kepada seleuruh Masyarakat, Pendukung Pasangan Calon maupun Partai-Partai Politik agar tidak lagi melakukan aksi penolakan terhadap pasangan Calon tertentu, karena gerakan tersebut bisa masuk sebagai pidana pemilu.

Penulis: Daffa
Editor: Redaksi

Baca Juga