Tim Hukum CV. Permata Sebut Kliennya Difitnah

[ Yanto Yunus Aktivis Buruh Maluku Utara ]

TERNATE - Pembangunan gedung isolasi covid – 19 di RSUD Sanana Kapupaten Kepulauan Sula (Kepsul) yang diberitakan salah satu media online pada tanggal 08 September 2020 terkait konstruksi bangunannya yang menurut isi berita tersebut memakai material bekas di bantah oleh CV. Permata, Muhammad D. Palipun alias Jek selaku pihak yang melakukan pengerjaan proyek pembangunan gedung isolasi covid-19 di Kepulauan Sula, hal itu kemudian ditanggapi oleh Tim Kuasa Hukum Muhammad D. Palipun, Zuarez Yanto Yunus dan Furkan Abdullah, SH.

Menurut Yanto Yunus, informasi yang disampaikan oleh Aswad adalah tidak benar bahkan sesat dan menyesatkan atau dalam ilmu logika disebut Kesesatan Argumentasi / Fallacy Paralogis. Sebab, memberikan suatu informasi yang sesat dan iya sendiri tidak melihat kesesatannya. Atau oleh Irving M. Copy Carl Cohen dalam Introduction to logic menyebut dengan istilah Argumentum ad ignorantiam, mengemukakan suatu informasi sebagai benar, karena belum terbukti salah. Dan sekarang informasi tersebut ternyata salah dan tidaklah benar. Karena, faktanya pekerjaan yang telah dilakukan oleh CV. Permata Bersama sudah sesuai prosedur.

" Klien kami, Muhammad D. Palipun alias Jek sebagai pihak yang ditugaskan untuk mengerjakan proyek pembangunan gedung isolasi Clcovid – 19 merasa di fitnah terkait pemberitaan tersebut," tuturnya saat ditemui media ini di Kantornya, Kamis [10/9/2020].

Yanto mengatakan, Aswad sebelumnya merupakan pekerja di proyek tersebut. Namun, Aswad dianggap tidak memiliki etos kerja yang baik dan tidak berkualitas alias amburadul, sehingga kliennya memberhentikan Aswad dari pekerjaan tersebut. Sebab, berdasarkan hasil identification & poin of information about case law dari kliennya, dan dikaitkan dengan sejumlah saksi-saksi dan bukti-bukti yang ada," Klien kami selaku pemegang proyek pembangunan gedung isolasi covid-19 Rumah Sakit Umum Daerah Sanana, merasa skeptis atas tindakan Aswad yang dianggap merugikan serta mengganggu jalannya proses pembangunan proyek," pungkasnya.

Kata Bung Yeye panggilan akrab Yanto Yunus setelah dipelajari dan dalami serta menganalisis keterangan yang dihimpuan dari kliennya serta melakukan research for the true melalui kebenaran koresprondensi, dapat ditemukan suatu fakta hukum bahwa berita yang termuat dalam salah media online sebagaimana tersebut di atas dengan menyebut material bangunan yang digunakan, baik besi, kabel fantalasi adalah menggunakan bahan bekas dan pembangunan proyek tersebut dilakukan tanpa fondasi.

" Hal ini adalah suatu tuduhan yang tidak benar yang dapat dikualifisir sebagai suatu perbuatan penyebaran berita bohong / hoax, karena pada faktanya semua pekerjaan yang telah dilakukan menggunakan material baru bukan bekas, termasuk proyek yang dikerjakan pun menggunakan fondasi. Bagaimana mungkin suatu proyek pembangunan tanpa fondasi, ini kan ngaur," tukasnya.

Lanjut dia, terlebih lagi sudah berulang kali Tim Pengawas Lapangan dari RSUD Sanana dan Dinas Pekerjaan Umum telah melihat langsung lokasi pembangunan gedung isolasi covid – 19 yang telah dikerjakan tidak terdapat masalah.

" Jadi, si Aswad ini sebelumnya ikut kerja dengan klien kami dalam proyek itu, tapi pekerjaannya tidak sesuai konstruksi bangunan dan dokumen yang difoto adalah hasil pekerjaannya yang tidak beres, sehingga klien kami dengan terpaksa harus memberhentikan yang bersangkutan dan memperbaiki semua pekerjaan Aswad yang terbilang amburadul. Jadi kalau sekarang Aswad memuat berita dengan dokumen foto yang lama, sama halnya yang bersangkutan telah menelan ludahnya sendiri, karena semua dokumen tersebut adalah hasil kerjanya dan klien kami sudah melakukan perbaikan setelah yang bersangkutan diberhentikan," ucapnya.

Dia menambahkan, oleh karena itu, setelah klien kami memberhentikan Aswad. Tetapi Aswad ini mengancam kalau tidak berikan iya uang iya akan membuat publikasi dan menyebarkan berita yang tidak baik di masyarakat terkait pembangunan proyek ini," Kami selaku kuasa hukum pernah melayangkan surat somasi kepada Aswad yang diduga melakukan Pemerasan terhadap klien kami," jelas Zuarez Yanto Yunus.

Dan ternyata pada tanggal 08 September 2020 kemarin Aswad muncul di salah satu berita online sebagai informan yang memberikan informasi bahwa pembangunan gedung tersebut menggunakan material bekas," Nah, pada tanggal 8 September 2020 si Aswad ini memberikan informasi di berita bahwa material bangunan adalah bekas padahal yang bekas itu pekerjaannya si Aswad yang dulu. Sehingga, klien kami mengganti semua material bangunannya dan sudah di periksa oleh pihak terkait dan itu sesuai dengan prosedur pembangunan. Maka dari itu, kami akan tempuh langkah hukum dengan membuat laporan Polisi di Reskrimsus Polda Maluku Utara terkait perbuatan Aswad yang menurut kami telah membuat informasi bohong dan dapat dikategorikan sebagai fitnah," pungkasnya.

Yanto juga mengatakan bahwa semua tuduhan tersebut dapat dia buktikan kebenarannya melalui data, dokumen dan saksi-saksi yang selanjutnya akan diserahkan kepada Ditreskrimsus Polda Maluku Utara karena diduga melanggar Undang-Undang 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Sementara itu, Zuarez Yanto Yunus juga menambahkan agar oknum wartawan yang membuat berita tersebut supaya mengkonfirmasi kepada kliennya agar mendapatkan data yang dapat diterima atau admissible, koheren dan berbasis avident base. Bukan justru menyebarkan berita bohong dengan menggunakan bukti yang tidak benar atau that evidence is incorrect or tainted evidence atau bukti yang ternodai. Sebab, hal tersebut merupakan konfigurasi profesionalisme wartawan.

" Agar berita yang memuat informasi dari Aswad harus berimbang yaitu meminta konfirmasi hak jawab kepada klien kami agar beritanya memiliki data inormasi yang otentik dan tidak melanggar kode-etik dan ketentuan Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers’’. tambah Zuarez Yanto.

Penulis: Anto
Editor: Redaksi

Baca Juga