Bajak Laut Gamrange

Oleh : FirmanSyah Usman

Abad 16, 17, dan 18, orang Gamrange (Weda, Patani dan Maba) diberi label sebagai bajak laut dan bajingan terhebat di wilayah timur.

Dahulu orang-orang di wilayah semananjung timur Halmahera (Weda, Patani, Maba) tergabung dalam satu lembaga yang disebut Fagogoru. Lembaga Fagogoru dalam kehidupan sosial bertujuan sebagai persemakmuran ekonomi negeri-negeri. Begitu terlembaganya dalam kehidupan sosial, sehingga masyarakat di ketiga negeri itu memiliki sikap saling membantu. Dahulunya ketika ada keperluan membuat arumbaidan kora-kora untuk suatu ekpedisi penjarahan, maka seluruh warga saling membatu menyelesaikannya.

Begitu juga dengan membangun sebuah rumah. Masyarakat Weda, Patani, Maba, juga dikenal sebagai masyarakat bermata pencaharian dengan berkebun. Ada kebun bulanan, kebun tahunan dan kebun warisan. Ketika hasil panen tiba masyarakat saling membantu, bahkan hasilnya selalu dibagi bersama. Sampai dengan saat ini, beberapa tradisi dari Fagogoru di atas masih dipertahankan.

Dalam sejarah, masyarakat di ketiga negeri (Weda, Patani, Maba) memiliki hubungan yang erat dengan kerajaan Jailolo dalam perjuangan melawan kerajaan Ternate dan Tidore. Namun di tahun 1551, Jailolo runtuh. Keruntuhan Jailolo mengantarkan kerajaan Ternate menjadi penguasa di wilayah Halmahera sebelah utara. Untuk waktu yang lama timbulah pemberontakan di pimpin oleh Dano Hassan pada tahun 1876, bertujuan mendirikan kembali kerajaan Jailolo. Dano Hassan kembali mengalami kegagalan. Kerajaan Tidore yang diharapkan bisa membantu, terbukti tak bisa berbuat apa-apa dihadapan kerajaan Ternate. Kekalahan demi kekalahan berdampak langsung pada wilayah Weda, Patani, Maba.

Akhirnya wilayah ini menjadi suatu terra incognita (tanah tak bertuan). Karena tak bertuan, orang Weda, Patani, Maba, membentuk suatu konfederasi sosial-politik otonom, yang mereka sebut Fagogoru, lembaga ini kemudian berkembang menjadi suatu lembaga adat yang khas (Robby Teniwut, 2004).

Namun negeri Fagogoru terus menjadi wilayah rebutan kerajaan Ternate-Tidore, yang pada akhirnya kerajaan Tidore tampil sebagai penguasa di wilayah itu. Setelah berkuasa, Fagogoru sebagai suatu lembaga sosial-politik otonom lebih dikenal dengan nama Gamraange (Gamrange), penamaan tersebut merupakan simbol kekuasaan kerajaan Tidore. Sejak kerajaan Tidore berkuasa, keharusan membayar upeti diwajibkan dalam setahun sekali. Weda dan Maba diperkhusus menjadi rumah dapur (budak kesultanan) yakni membatu mengolah komoditas alam berupa rempah-rempah dan juga harus mengirim hasil alam sebagai upeti ke kerajaan (Muridan, 2013).

Sedangkan wilayah Patani diwajibkan untuk mengirim upeti berupa manusia (budak) yang akan dipekerjakan di perkebunan milik bangsawan dan VOC Belanda. Tak bisa dinafikan, kejayaan kerajaan Tidore dan VOC Belanda berada di pundak (tenaga) dan kekayaan alam orang Weda, Patani, Maba.
Legenda local menceritakan bahwa orang Weda, Patani, Maba, adalah pelaut ulung mengarungi laut Maluku, berpergian ke Sulawesi, Bali dan pulau Jawa.

Ketika mereka pulang ke negerinya, banyak sekali barang yang dibawa dan yang lebih disukai adalah benda keramat berupa keramik dan persolen Cina. Selain barang (benda) ada juga manusia yang dibawa, konon manusia yang dibawa itu adalah hasil tangkapan di laut maupun di daratan. Ternyata orang Weda, Patani, Maba adalah pelaut ulung dan penjarah sejati.
Dalam bukunya Adnan Amal yang berjudul “kepulauan Rempah-rempah.” Istilah bajak laut lebih lekat dengan orang Tobelo-Galela. Pada buku itu di halaman 299, tertulis mengenai bajak laut Tobelo-Galela yang eksis di abad ke 19, mereka melakukan perompakan di wilayah Maluku, Sulawesi dan Jawa Timur.

Namun halaman itu sangat singkat, tak ada penjelasan kongkrit. Hal ini akan membuat para pembaca bertanya-tanya, mengapa orang Tobelo-Galela bisa menjadi bajak laut? Atau mungkin dengan sendirinya mereka menjadi bajak laut? Meski saya berpendapat bahwa alasan utamanya “ekonomi” karena tekanan kerajaan Ternate di masa itu, tetapi pihak pembaca sejarah Maluku membutuhkan rekaman sejarah yang pasti. Terlepas dari hal itu, Adnan Amal adalah sosok yang luar biasa, penulis sejarah Maluku yang hebat, itu patut di apresiasi.

Kemudian A.B Lapian sejarawan Maritim, dalam bukunya “Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut.” Ia menulis mengenai bajak laut Tobelo di halaman 131. Bajak laut Tobelo muncul di akhir abad 18, tapi eksisnya bajak laut Tobelo pasca pemberontakan Nuku di abad 19. Para tokoh bajak laut Tobelo pun menjadi perhatianya, seperti Robodoi, Laba dan Lobolontio. Mereka memiliki peran penting dalam ekonomi-politik penjajahan.

Setidaknya, Adnan Amal dan A.B Lapian memiliki kesamaan dalam penulusuran sejarah mengenai bajak laut dan aktivitas penjarahan yang dilakukan di abad ke 19. Mereka berdua adalah sejarawan hebat.
Sejarah bajak laut Tobelo di abad 19 memiliki peran besar dalam pergolakan ekonomi-politik penjajahan. Dalam penjarahan yang mereka lakukan selalu merugikan pihak kerajaan dan Belanda. Sebab mereka tidak hanya menjarah, tapi membunuh dan membakar kampung, seperti yang terekam dalam catatan sejarahnya orang Bima. Tetapi di lain waktu, pihak Kerajaan dan Belanda mendapat keutungan dari budak-budak yang merupakan hasil tanggapan bajak laut Tobelo.

Dari kedua buku di atas yang ditulis oleh A.B Lapian dan Adnan Amal, tidak terlacak sedikit pun mengenai bajak laut Gamrange dan kemunculannya. Maka dengan tulisan ini, yang masih jauh dari harapan pembaca, bisa menginformasikan bahwa dalam sejarah Maluku, bajak laut Gamrange (Weda, Patani, Maba) pernah eksis dari abad 16, 17, dan 18, sebelum adanya bajak laut Tobelo-Galela.

* Munculnya Bajak Laut Gamrange

Tidak diketahui jelas di abad keberapa bajak laut Gamrange (Weda, Patani dan Maba) eksis. Namun C. Boxer dan P.Y Manguin mengatakan bahwa aksi serangan penjarahan muncul di Serdanha, di sisi timur Seram sudah sejak abad ke 16 (Muridan, 2013). Bahkan Serrao seorang Portugis yang satu pelayaran dengan Magellan telah menemukan Maluku di tahun 1512, kapalnya yang kerusakan berat (rongsokan) sempat dirampas oleh sekumpulan bajak laut, namun Serrao mengalahkan mereka (Jack Turner, 2011). Tetapi tidak ada penjelasan kongkrit dari mana para bajak laut itu? padahal di abad itu, telah eksis bajak laut Gamrange, bajak laut Raja Ampat, bajak laut Onin. Dan jauh ke arah utara di laut Filipina, ada bajak laut Mangindanao, Ilanun dan Sulu yang sering menjarah Sulawesi, Kalimantan dan pulau-pulau sekitarnya.

Dalam catatan Belanda, penjarahan atau perampokan yang dilakukan oleh bajak laut Gamrange telah banyak merugikan VOC Belanda. Mereka tak hanya menjarah. Negeri-negeri di Maluku, Flores, Sulawesi, dan beberapa pulau di Jawa timur, yang merupakan pos perdagangan Belanda dibakar habis, penduduk yang setia dengan Belanda dibunuh, diciduk dan dijual di pasar budak.

Pada tahun 1650 dan 1653 Arnold de Vlaming memimpin sejumlah ekspedisi untuk menumpas para bajak laut Gamrange dan Raja Ampat. Di 1660, 1662, 1665 dan 1666, para bajak laut Gamrange dan Raja Ampat menyerang kepulauan Ambon dan Seram Utara, para penduduk Amblau menjadi korban rutin. Di tahun 1666 VOC Belanda melancarkan ekspedisi lainya untuk mempertahankan Seram Utara. Dan mereka hanya mampu menangkap satu perahu kora-kora Papua (Raja Ampat).

Pada tahun 1678, dengan tiga perahu kora-kora dan dua kapal kecil di bawah pimpinan Sangaji Patani dan Kapitan Laut Tidore, para bajak laut Gamrange (Weda, Patani dan Maba) melakukan serangan spektakuler terhadap kepulauan Ambon. Sekitar 50-60 pedagang dan nelayan Ambon tertangkap dan ditukarkan di Seram Timur dengan harga 38-40 rix dollar per orang. Karena merasa dirugikan oleh ulah bajak laut Gamrange, pihak VOC Belanda selalu menegur kerajaan Tidore, menegaskan untuk segera mengamankan wilayah Gamrange sebagai vassal Tidore dari para bajak laut, tetapi sultan Tidore waktu itu hanya mengiyakan tak pernah melaksanakan perintah VOC Belanda.

Tentunya pihak kerajaan tak mau kehilangan kesetian dari orang Gamrange. Akhirnya kerajaan Tidore diancam VOC Belanda, karena posisi yang sangat dilematis, kerajaan Tidore mengirim ekspedisi penghukuman ke Gamrange menumpas beberapa kelompok bajak laut Gamrange. Tidak terima dengan perlakuan yang dilakukan, maka bajak laut Gamrange melakukan serangan balasan dengan menjarah dan membakar pos-pos perdagangan serta membunuh penduduk yang mendukung VOC Belanda. Kemudian bajak laut Gamrange menyatakan sikap untuk tidak mau membayar upeti kepada kerajaan Tidore.

Menurut orang Belanda dalam catatannya, bahwa sepanjang abad 16, 17, dan 18 bajak laut Gamrange adalah bajingan terhebat di wilayah timur, mereka benar-benar ditakuti oleh masyarakat Maluku, Sulawesi, dan Jawa Timur serta menjadi ancam bagi VOC Belanda.

* Orang Tobelo Mewarisi Bajak Laut dari Orang Gamrange

Tak bisa dipungkiri lagi bahwa kemunculan bajak laut Tobelo yang ditulis oleh A.B Lapian dan Adnan Amal masih berumur muda, munculnya aktivitas pembajakan yang dilakukan bajak laut Tobelo diketahui pada akhir abad 18 dan eksis serta hilang pada abad 19. Benar bahwa bajak laut tobelo sangat terkenal dan meresahkan dua kerajaan Ternate-Tidore serta sekutu mereka Belanda. Tapi dari manakah orang Tobelo mewarisi bajak laut? Di masa pemberontakan Nuku, orang Tobelo menurut A.B Lapian, belum bisa dikatakan sebagai bajak laut dalam arti sesungguhnya.

Orang Tobelo hanya menjadi pengikut Pangeran Nuku yang sedang melakukan perlawanan terhadap Tidore dan VOC, perlawanan orang Tobelo sebagai pengikut Nuku dilakukan secara bersama-sama dengan suku bangsa lain yakini, Gamrange (Weda, Patani dan Maba) dan Raja Ampat. Baru pada masa pasca Nuku orang Tobelo melakukan perjalanan laut untuk kepentingan sendiri.

Sumber dari abad XVII mengatakan bahwa pada 1662 orang Tobelo masih berdiam diri jauh dari pantai, hal ini disebabkan karena mereka sering diserang oleh bajak laut Gamrange dan Raja Ampat yang terkenal kejam di wilayah timur nusantara dari abad 16, 17 dan 18. Dan para bajak laut ini memiliki luas wilayah operasi sepanjang laut Maluku dan sekitarnya, Tobelo, Morotai, Manado, Bitung, Selayar, Makassar, Bali dan Jawa Timur.

Dimasa pemberontakan Nuku. Pangeran muda Tidore itu sangat membutuhkan bantuan dari pihak Gamrange dan wilayah kekuasaan Tidore lainya, yakni Raja Ampat dan Seram. Nuku sendiri sangat paham dengan krakter orang Gamrange yang sudah sejak dulu menjadi bajak laut atau penjarah terhebat di wilayah timur, maka kekuatan Gamrange sangat dibutuhkan. Setelah ia berhasil memobilisasi Gamrange, Raja Ampat, Seram. Nuku kemudian mengajak orang-orang Halmahera Utara, yang waktu itu dikenal dengan istilah Gamkonora (Tobelo, Tobaru, Galela) untuk menjadi aliansi Nuku.

Di masa itu, sejumlah orang Gamrange dan aliansi mereka dari Seram datang ke wilayah Halmahera Utara, mereka melakukan pertukaran secara simbolis dengan orang Kao dan Tobelo, kemudian pemimpin Gamrange dan Seram memberikan dua ekor merpati, sebilah pedang dan sebuah lembing kepada putri Kapitan Laut Tobelo Afir. Setelah pertukaran hadiah, 40 kora-kora disiapkan untuk melakukan ekspedisi bajak laut atau penjarahan ke Manado. Setelah melakukan penjarahan di Manado, mereka pun bersama orang-orang Tobelo-Galela melakukan penjarahan di wilayah Gane.

Di tahun 1792 dilaporkan bahwa sebuah persekutuan baru telah dibuat antara orang Gamrange dengan Tobelo. Dan sejak itulah bersama orang Gamrange mereka terus melakukan penjarahan. Di laporkan oleh Belanda bahwa aksi-aksi bajak laut Tobelo di Wilayah Timur abad 19, tidak hanya terdapat orang Galela, tetapi orang Weda, Patani, Maba, pun terlibat (Lapian, 2009).

Setelah Nuku berhasil merebut kembali kerajaannya dan ia kemudian menjadi Sultan. Tobelo-Galela mulai menjadi terkenal dengan aktivitas bajak lautnya atau penjarahannya. Tapi bukan berarti di masa pasca Nuku, Gamrange tak lagi melakukan penjarahan. Kegiatan yang dibenarkan secara sosial itu masih saja terus dilakukan. Ada dua hal utama mengapa orang Gamrange menjadi bajak laut.

Pertama ; ketika mereka berhasil menjarah daerah-daerah di Maluku, Sulawesi, Timor (Flores), Makassar, Bali, Jawa, dan jika mendapat barang berharga seperti kramik Cina, kain sutra atau mendapatkan banyak orang yang ditangkap, maka hal itu akan mengangkat status sosial mereka, tradisi ini juga berkaitan erat dengan hal mistis yang sangat mereka percayai. Gamrange dan Raja Ampat memiliki tradisi yang serupa.

Kedua ; aktivitas bajak laut atau penjarahan yang mereka lakukan berkaitan erat dengan masalah ekonomi-politik penjajahan.

Sumber :

Adnan Amal, Kepulauan Rempah-rempah : Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), Jakarta, 2010.

Adrian B. Lapian, Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut : Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX. Komunitas Bambu, Beji Timur, Depok, 2009.

Roem Topatimasang, Orang-Orang Kalah : Kisah Penyingkiran Masyarakat Adat Kepulauan Maluku. Insist Press, Yogyakarta, 2004.

Muridan Widjojo, Pemberontakan Nuku : Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua sekitar 1780-1810. Komunitas Bambu, Depok, 2013.

Jack Turner, Sejarah Rempah : Dari Erotisme sampai Imperialisme. Komunitas Bambu. Jakarta, 2011.

Penulis: Firmansyah Usman

Baca Juga