Meneropong Tim Pemenang Pilkada Kota Tidore Kepulauan 2020

Oleh: Abd. Wahab A.Rahim
Masyarakat Kota Tidore Kepulauan

Ketika desas-desus calon walikota yang  sejak tahun lalu diwacanakan paling tidak ada empat yang ditampilkan, walau pada akhirnya berujung hanya ada dua calon yang sudah pasti untuk mencalonkan diri, yaitu AMAN dan SALAMAT.

Saya (penulis) secara pribadi sebenarnya mengharapkan lawan tanding AMAN adalah BABARI. Kenapa? karena hanya BABARI yang saya lihat narasinya tajam dalam menjabarkan sesuatu (bisa lihat di halaman facebook Komunitas Babari) cukup menarik bukan jika kita melihat perang narasi antara BABARI vs AMAN (AMAN melalui juru bicaranya Ka Ardiansyah Fauzi sering menulis dengan argumentasi yang tajam) untuk meningkatkan percakapan politik di Tidore walau hanya media sosial dan media online.

Tapi fakta politik bicara lain, SALAMAT lah yang menjadi lawan tanding AMAN. Karena harapan saya untuk melihat perang narasi yang tajam antara AMAN dan BABARI tidak terpenuhi, saya kemudian tertuju pada Ketua Partai Perindo Kota Tidore Kepulauan yaitu Ko Abubakar Nurdin, karena saya membaca tiap tulisannya di media-media online yang sangat menarik dan kebetulan pada saat itu kecenderungan Perindo Kota Tidore mengarah pada SALAMAT.

Jadi, harapan saya " debat bermutu dengan argumentasi yang tajam" masih mungkin bisa terealisasi karena dalam satu tulisan Ko Abubakar Nurdin bahkan meminta AMAN untuk jangan sekedar menjadikan "Tidore Jang Foloi" sebagai jargon, tapi jelaskan narasi itu secara detail dan argumentatif (kalau tidak salah dalam tulisannya Politik Cinta yang saat ini sudah tidak bisa diakses). Tapi sayangnya harapan saya benar-benar pupus, tarik ulur rekomendasi dalam internal Partai Perindo berujung pada keputusan Nomor: 085-SR/DPP-PARTAI PERINDO/VII/2020 tentang Persetujuan Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang menyatakan bahwa dukungan Partai diberikan kepada AMAN dan sebagai kader partai yang loyal di daerah harus menjalankan keputusan itu. Sekarang Ko Abubakar Nurdin juga punya tugas untuk merumuskan narasi "Tidore Jang Foloi", karena sudah menjadi bagian dari AMAN (masyarakat menunggu).

Paragraf-paragraf sebelumnya diatas adalah pengantar yang merupakan harapan saya agar sekiranya ada percakapan yang bermutu dari tiap kandidat, karena demokrasi di Tidore akan benar-benar tumbuh jika gagasan itu dinarasikan dan diuji secara sehat tanpa ada sentimen. Agar media sosial kita ramai dengan kalimat-kalimat tajam yang argumentatif karena secara tidak langsung itu adalah bagian dari pendidikan politik yang merupakan tugas kita semua, terutama Partai. Bukan sekedar sibuk menyoroti kehidupan pribadi lawan politik, apalagi sampai mempersoalkan istri, itu hal yang sangat buruk dalam demokrasi.

UNTUK PETAHANA.

Secara teoritis petahana memang diuntungkan dari banyak aspek, bahkan data yang sering digunakan oleh juru bicara AMAN khususnya dan tim AMAN pada umumnya untuk menunjukan keunggulan AMAN dibandingkan lawan politiknya adalah hal yang tak perlu dilebih-lebihkan, karena memang mereka adalah petahana yang wajar-wajar saja jika kepopulerannya melampaui figur-figur lain, jadi itu hal yang sangat biasa layaknya AMAN yang mendapatkan rekomendasi PDIP.

Bukankah dalam politik hal yang harus diperhatikan adalah kemungkinan terburuk? Lagian itu adalah survey diakhir tahun lalu, bukankah Tim AMAN juga menyadari bahwa Covid-19 punya dampak yang cukup signifikan? (Pastinya menyadari, tapi untuk menampilkan wajah di depan publik harus dengan bergagah-gahan, saya yakin di belakang layar hal itu pasti dievaluasi secara radikal).

Hal yang lebih rumit buat petahana adalah diksi-diksi yang digunakan oleh Tim Petahana untuk membangun narasi agar mampu mempengaruhi pemilih.

Setiap kalimat dari Petahana dalam upaya mempengaruhi pemilih adalah "kami telah" dan entah sadar atau tidak, kalimat yang di dalamnya terdapat "kami telah", bagi saya adalah kerumitan. Contohnya, "Kami telah membangun ini…", "kami telah berbuat ini…", "kami telah berupaya ini…". Kalimat-kalimat itu bisa diuji secara statistik, bisa dievaluasi secara radikal oleh siapapun. Oke, petahana bisa menjadikan kalimat itu sebagai senjata untuk bergagah-gahan di media dengan statistik internal karena menunjukan hasil yang positif. Tapi, orang yang sehat isi kepalanya pasti tau bagaimana bisa mengevaluasi kinerja menggunakan lembaga internal, harusnya dievaluasi oleh pihak ketiga dengan metode yang tepat, aneh bukan mengevaluasi petahana menggunakan data petahana. Lebih parahnya lagi jika hasil statistik internalnya merugikan petahana.

Diksi-diksi lain misalnya, petahan selalu tampil lantang dengan kalimat "kita akan melanjutkan apa yang belum selesai di periode kemarin" di sini menunjukan kelemahan dari tim petahana, karena harusnya pembangunan dan program yang yg dicetuskan di periode awal, waktunya adalah lima tahun, dan kalimat diatas menunjukan kegagalan sebagai petahana di periode sebelumnya, karena gagal menyelesaikan tugas dalam waktu yang tepat, atau petahana tidak tahu kalau masa jabatannya hanya lima tahun?

Diksi-diksi itu berimplikasi pada diksi "pokoknya", "pokoknya lanjutkan…", "pokoknya dua periode…", yang merupakan kalimat untuk mendominasi percakapan tanpa melahirkan wacana-wacana baru yang lebih bermutu.
Menjadi petahana memang diuntungkan, tapi rumit karena bisa dievaluasi secara riil kinerja di periode sebelumnya, jika ada celah sekecil apapun itu, akan tetap menjadi masalah yang serius. Semoga tim petahana bijak dalam penggunaan diksi, agar tidak kepeleset.

UNTUK PENANTANG

Karena penantangnya adalah SALAMAT saya belum melihat sosok yang tampil untuk menyanggah argumentasi dari petahana secara tajam melalui tulisan-tulisan di media online (bukan komentar facebook) setelah Perindo telah merapat ke kubu AMAN. Terlepas dari itu saya percaya pasti ada hanya saja belum dimunculkan.

Penantang mungkin lebih sering begadang untuk memikirkan strategi bagaimana mendominasi tiap-tiap posko yang telah dibangun oleh petahana, atau sesekali membuka ajaran lama bahwa "mempertahankan lebih sulit ketimbang merebut" sekedar sebagai penguat hati yang sedang berjuang.

Penantang (yang resmi sebagai lawan politik) atau ada juga sekelompok orang yang ingin melengserkan petahana entah siapapun penggantinya, bagi saya penantang memiliki peluang yang lebih besar untuk mengelaborasi issu berkat evaluasi kinerja petahana dengan dasar argumen yang kuat, tapi itu tidak atau belum terlihat, yang ada malah komentar-komentar di media sosial yang penuh dengan sentimen. Setiap komentar yang dilontarkan malahan membuat simpatisan petahana lebih solid atau bahkan membuat Swing Voters ataupun Undecided Voters lebih bersimpati dan memiliki kecenderungan ke petahana. Kenapa? Saya akan coba jawab berdasarkan skandal Clinton-Lewinsky yang pernah menghebohkan warga Amerika Serikat.

Ketika kasus skandal Clinton-Lewinsky mulai menjadi sorotan publik, pada awalnya berulang kali Clinton tidak mengakui hal itu, karena Monica Lewinsky terus menerus berupaya membokar kasus ini, akhirnya Clinton terjepit dan mengakui bahwa Dia pernah melakukan perselingkuhan dengan Lewinsky entah di persidangan atau secara terbuka melalui media.

Clinton mengatakan "Memang, saya memiliki hubungan yang tak pantas dengan Nona Lewinsky,” dengan menambahkan bahwa penyelidikan yang dialamatkan kepadanya memiliki motif politik yang kuat [dikutip dari tirto.id]. Menariknya, pernyataan Clinton yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan pernyataan sebelumnya dan bahkan mengakui fakta dari skandal tersebut tidak mempengaruhi popularitasnya.

Disini poinnya, pada tahun 2018 Majalah Politico (Politico Magazine) menerbitkan tulisan John F. Harris yang berjudul “‘Washington Was About to Explode’: The Clinton Scandal, 20 Years Later”. Harris menjelaskan bahwa tidak terganggunya popularitas Clinton dan yang menyebabkan Dia selamat dari skandal tersebut bukan karena publik mempercayai ketidakkonsistenan argumentasinya, melainkan karena Dia berhasil membangun narasi yang meyakinkan publik, bahwa skandal yang menyelimutinya bukan serta merta soal pelanggaran hukum melainkan ada motif politik (kekuasaan) yang sangat kuat. Kenapa? Karena dalam politik atau dalam pertarungan kekuasaan pertanyaan yang paling penting bukanlah "Apa yang sebenarnya terjadi?", tetapi "Di mana Anda memihak?".

Bagi saya, narasi-narasi yang dimainkan oleh kubu penantang hanya memperkuat posisi petahana, karena narasinya lebih membawa pada "keberpihakan publik", membuat dikotomi semakin jauh antara kedua kubu yang secara otomatis meneguhkan keberpihakan, kita tahu secara riil basis aman telah rapi dan mengakar, dan narasi yang dimainkan semakin memperkuat keberpihakan itu. Jadi, kembangkanlah wacana dengan narasi yang bermutu.

Entah petahana atau pun penantang, saya selaku masyarakat Kota Tidore Kepulauan mengharapkan agar Pilkada 2020 ini bukan sekedar hina-menghina tapi ada duel argumen yang bermutu dari kedua belah pihak, berbalas pantun dengan santun, narasi yang berisi, diikuti dengan pembelajaran politik untuk kita semua bukan sekedar sensasi yang sibuk menyerang pribadi. Untuk itu saya menanti gagasan dari tiap kandidat untuk Tidore kedepan, entah dari kubu AMAN maupun SALAMAT, "Tidore Jang Foloi" ataupun "Tidore Baru".

Ketika saya mau mengakhiri tulisan ini, tiba-tiba ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: "Dul kurasa kau tahu bahwa  Pilkada Kota Tidore Kepulauan 2020 adalah Lesser of Evil", sebelum saya membalas, saya bertanya-tanya siapakah pengirim pesan ini? saya kemudian menebak dalam hati sambil tertawa "jangan-jangan yang mengirim pesan ini adalah admin dari Komunitas Babari". Kemudian saya membalas pesannya, "I don't know about that. I just know "don't abstain, exercise your vote", believe me! Tidore will be better".

Syukur Dofu.
Suba Jou.

Penulis:

Baca Juga